Tugas Geografi: Desa Memanjang
Biografi Tim Penyusun
Kelompok 1 : 1. MF Albar (14)
2. Raditya Joant F.B (23)
3. San Happy Laila (28)
4. Siti Ansatul F (30)
5. Taliha Riefda S (31)
Kelas : XII MIPA 7
Guru Pembimbing : M. Abdul Gofur, S.Pd
Tahun Pelajaran : 2022/2023
A. Struktur Keruangan Desa & Kota
1. Desa
a. Pengertian Desa
Berdasarkan asal katanya, desa berasal dari bahasa sanskerta yaitu deshi yang artinya tanah kelahiran atau tanah tumpah darah. Menurut UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa, definisi desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain definisi desa berdasarkan undang-undang, ada pula definisi desa berdasarkan pemikiran Sutardjo Kertohadikusumo, yang menjelaskan bahwa desa adalah suatu kesatuan hukum dan di dalamnya bertempat tinggal sekelompok masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.
b. Ciri-Ciri Desa
Selanjutnya kita bahas tentang ciri-ciri desa. Ketika akan menentukan sebuah pemukiman dikatakan desa atau bukan, kita bisa nih menilai dari ciri-cirinya. Ciri-ciri dari desa digolongkan menjadi dua (2) bagian, yaitu ciri fisik dan ciri sosial.
1) Ciri Fisik Desa
| (Sumber: https://youtu.be/cHK_dPtOwCM ) |
a) Tata guna dan pemanfaatan lahan
Pada pedesaan, tata guna dan pemanfaatan lahannya, lebih menitik beratkan pada sektor pertanian. Hal ini, terbukti dengan luasnya hamparan sawah, maupun kebun yang ada di desa.
b) Aktivitas yang tergantung pada alam
Masih berkaitan dengan kegiatan desa yang lekat dengan pertanian, kehidupan di desa masih tergantung pula dengan alam. Jadi, tiap-tiap desa akan berbeda budaya pertaniannya. Misalnya pada pertanian sawah, yang bergantung pada musim, atau pertanian lahan basah, yang tergantung pada jenis tanah.
c) Kebiasaan beraktivitas
Fenomena alam seperti yang dijelaskan sebelumnya, kemudian mempengaruhi gaya hidup tiap-tiap desa. Contoh sederhananya yaitu, ketika matahari mulai terbenam, penduduknya pasti akan menghentikan aktivitas mereka, dan beristirahat untuk melanjutkan kegiatannya di esok hari ketika matahari sudah terbit kembali.
d) Jumlah penduduk
Di Desa, jumlah penduduk relatif sedikit, atau tidak sebanyak di wilayah perkotaan. Penduduk yang sedikit ini, menempati suatu wilayah yang sangat luas, sehingga bisa dikatakan rasio kepadatan penduduknya cukup rendah. Maka dari itu, banyak anggapan jika ingin mencari kehidupan yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk keramaian, pindah ke desa adalah pilihan yang tepat.
e) Pola pemukiman
Dari segi pola pembangunan pemukiman, wilayah desa cenderung mengikuti morfologi yang terdapat di desa tersebut. Misalkan desa yang ada di pesisir pantai, maka pola pemukimannya akan memanjang mengikuti garis pantai.
2) Ciri Ciri Sosial Desa
| (Sumber: https://youtu.be/cHK_dPtOwCM ) |
a) Penduduknya bersifat homogen
Ciri berikutnya dari desa, yakni penduduknya yang cenderung homogen. Di desa, baik itu dari segi pekerjaan, agama, hingga budaya, rata-rata tergolong sama. Hal ini dikarenakan penduduk desa bisa terbilang turun-temurun tinggal di suatu wilayah yang sama, sehingga tidak ada proses masuknya budaya dari luar. Oleh sebab itu, aspek sosial para penduduk di desa cenderung homogen.
b) Sistem gotong royong
Di desa sendiri, terkenal dengan sebuah istilah gotong royong atau saling membantu sesama. Kamu tentu paham dengan budaya dari warga desa yang memiliki kekerabatan yang erat, sehingga cenderung saling membantu dan bekerjasama. Misalnya bisa kita lihat pada sebuah kegiatan hajatan, sudah pasti semua orang di desa akan turut membantu untuk mensukseskan hal tersebut.
c) Hukum informal
Nah di desa, juga ada suatu aturan atau batasan dalam berkehidupan. Namun sifatnya lebih informal atau tidak resmi. Pada umumnya hukum di desa lebih bersifat konvensi atau adat istiadat, yang dipegang sejak lama dan dijaga oleh para tetua di desa dan seluruh penduduknya.
d) Pola pikir masyarakat desa
Selanjutnya, pola pikir masyarakat desa cenderung tradisional, dan mengacu pada kepercayaan yang turun temurun selalu diajarkan sejak dari nenek moyangnya. Kamu bisa menyadarinya dengan kurangnya desa yang cenderung mengikuti perkembangan dunia modern.
e) Kontrol sosial
Pengamanan atau kontrol sosial di desa, umumnya dilakukan secara informal, berlandaskan kekeluargaan, dan mengacu pada nilai serta norma yang berlaku..
c. Pola Keruangan Desa
Umumnya pola keruangan desa bersifat sederhana seperti rumah-rumah dikelilingi pekarangan atau banyak area hijau baik sawah maupun ladang. Namun, pada desa yang sudah berkembang, umumnya memiliki pola keruangan desa yang lebih kompleks seperti ada sarana pendidikan, tempat ibadah, pasar, atau perusahaan yang mengelola sumber daya alam.
Ada beberapa pola keruangan desa yang perlu kita ketahui, diantaranya:
a) Pola Memusat
Pertama, yakni pola memusat. Pola ini termasuk yang paling umum ditemui di desa-desa Indonesia. Ciri khas dari pemukiman pola memusat adalah, pembangunan rumah penduduknya cenderung berdekatan pada suatu titik lokasi tertentu.
Pola memusat banyak terdapat di wilayah dataran rendah. Pola semacam ini kemungkinan terbentuk karena dihuni secara turun-temurun oleh beberapa generasi. Ciri khas dari penduduk dengan desa pola memusat adalah tingkat kekerabatannya yang tinggi.
b) Pola Mengelilingi
Pola mengelilingi fasilitas pada prinsipnya mirip dengan pola memanjang, namun perbedaannya ada pada pembangunan dari desanya tidak memanjang, namun mengelilingi suatu fasilitas tertentu yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Pola ini umumnya ditemukan di dataran rendah, dimana fasilitas umum yang ada dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya mengelilingi waduk atau mata air. Fasilitas yang dikelilingi tersebut sudah pasti berada ditengah-tengah pemukiman, dan digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan, baik kebutuhan industri maupun sehari-hari.
c) Pola Memanjang/ Menjalur (Line Village Community)
Pola ini biasanya mengikuti jalur utama seperti sungai, pantai, dan jalan. Di daerah pantau yang agak landau, pemukiman bisa tumbuh dan ada yang menjalur. Penduduk pantai umumnya akan bermata penceharian sebagai nelayan atau bergerak dalam bidang perdagangan.
d) Pola Menyebar (Open Country or Trade Center Community)
Pola ini terbentuk karena pemukiman penduduk tersebar. Umumnya pola pemukiman seperti ini berada di kaki gunung atau dataran rendah. Pemekarannya ke segala arah karena penduduk bisa dengan bebas membangun rumah atau tempat tinggalnya.
2. Kota
Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan kehidupan materialistis. Kota juga dijelaskan oleh seorang arsitek dari Polandia bernama Amos Rapoport, yakni suatu permukiman yang relatif besar, padat, dan permanen. Terdiri dari kelompok individu-individu yang heterogen dari segi sosial.
Selain dari pendapat ahli, Indonesia juga menjelaskan mengenai kota dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Kota dijelaskan sebagai kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa. Serta perubahan nama dan pemindahan ibukota pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Berbicara tentang segala sesuatu yang membedakan kota dengan wilayah lainnya, Kota juga memiliki ciri-ciri khusus, nih. Sama seperti desa, ada dua kategori besar untuk mengidentifikasi suatu wilayah sebagai kota, yakni ciri fisik, dan ciri sosial.
a) Tempat parkir
Sebagai sarana penunjang mobilitas penduduk yang memiliki alat transportasi pribadi.
b) Pusat keramaian
Sebagai lokasi atau ruang bagi berkumpulnya warga-warga di kota. Tempat ini menjadi pusat kegiatan sosial atau acara baik formal maupun non formal. Contohnya seperti alun-alun, mall, dan beberapa tempat unik untuk berkunjung
c) Sarana olahraga atau lapangan yang luas
Tempat ini menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat untuk beraktivitas fisik maupun mengadakan acara besar yang membutuhkan ruang yang bisa menampung banyak orang.
d) Pasar induk
Untuk menunjang kehidupan masyarakat kota mendapatkan bahan pangan atau kebutuhan rumah tangga mereka.Tapi tentu saja satu hal yang harus diingat, seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, bisa jadi di masa depan, ciri-ciri kota bisa bertambah, atau justru malah berkurang.
a) Jenis pekerjaan yang dijalani
Di kota, cukup banyak dan beragam bidang pekerjaan, mulai dari pegawai kantor, aparatur sipil, aparat, dosen dan peneliti, hingga pedagang dan pekerja serabutan. Pekerjaan yang memiliki kestabilan dan menentukan hajat hidup orang banyak biasanya akan mendapatkan tingkat sosial lebih tinggi dibanding yang lainnya.
b) Tingkat pendapatan
Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka akan tinggi pula strata sosial yang mereka miliki.
c) Kepemilikan barang-barang yang unik dan mahal
Hal ini juga menjadi tolok ukur yang menentukan lapisan sosial di kota. Kepemilikan benda yang dinilai unik dan tidak dimiliki orang banyak, karena faktor harga dan nilai yang tidak bisa dijangkau banyak orang, akan menentukan kasta sosial tertentu bagi pemiliknya.
d) Sistem kekerabatan
Sistem ini berlandaskan pada kepentingan atau patembayan, yang berarti antar individu memiliki ikatan sosial yang lemah, tidak saling mengenal orang di lingkungannya, nilai, norma, dan sikap menjadi kurang berperan dalam berinteraksi.
e) Mobilitas tinggi
Selain dari pendapat ahli, Indonesia juga menjelaskan mengenai kota dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Kota dijelaskan sebagai kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa. Serta perubahan nama dan pemindahan ibukota pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
b. Ciri - Ciri Kota
| Sumber: https://www.pendidik.co.id |
1) Ciri - Ciri Fisik Kota
Ciri fisik kota dapat dilihat dari fasilitas yang banyak terdapat di wilayahnya, seperti:a) Tempat parkir
Sebagai sarana penunjang mobilitas penduduk yang memiliki alat transportasi pribadi.
b) Pusat keramaian
Sebagai lokasi atau ruang bagi berkumpulnya warga-warga di kota. Tempat ini menjadi pusat kegiatan sosial atau acara baik formal maupun non formal. Contohnya seperti alun-alun, mall, dan beberapa tempat unik untuk berkunjung
c) Sarana olahraga atau lapangan yang luas
Tempat ini menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat untuk beraktivitas fisik maupun mengadakan acara besar yang membutuhkan ruang yang bisa menampung banyak orang.
d) Pasar induk
Untuk menunjang kehidupan masyarakat kota mendapatkan bahan pangan atau kebutuhan rumah tangga mereka.Tapi tentu saja satu hal yang harus diingat, seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, bisa jadi di masa depan, ciri-ciri kota bisa bertambah, atau justru malah berkurang.
2) Ciri Sosial Kota
Jika ciri fisiknya menyangkut tentang fasilitas, ciri sosial berkaitan dengan nilai dan pelapisan sosial yang dianut masyarakat di perkotaan. Ciri sosial pada umumnya dilihat dari hal-hal sebagai berikut:a) Jenis pekerjaan yang dijalani
Di kota, cukup banyak dan beragam bidang pekerjaan, mulai dari pegawai kantor, aparatur sipil, aparat, dosen dan peneliti, hingga pedagang dan pekerja serabutan. Pekerjaan yang memiliki kestabilan dan menentukan hajat hidup orang banyak biasanya akan mendapatkan tingkat sosial lebih tinggi dibanding yang lainnya.
b) Tingkat pendapatan
Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka akan tinggi pula strata sosial yang mereka miliki.
c) Kepemilikan barang-barang yang unik dan mahal
Hal ini juga menjadi tolok ukur yang menentukan lapisan sosial di kota. Kepemilikan benda yang dinilai unik dan tidak dimiliki orang banyak, karena faktor harga dan nilai yang tidak bisa dijangkau banyak orang, akan menentukan kasta sosial tertentu bagi pemiliknya.
d) Sistem kekerabatan
Sistem ini berlandaskan pada kepentingan atau patembayan, yang berarti antar individu memiliki ikatan sosial yang lemah, tidak saling mengenal orang di lingkungannya, nilai, norma, dan sikap menjadi kurang berperan dalam berinteraksi.
e) Mobilitas tinggi
Masyarakat kota terkenal dengan kesibukan dan frekuensi berpindah tempat yang tinggi. Salah satunya karena struktur pola keruangan kota yang padat, membuat masyarakatnya aktif bepergian dari rumah menuju tempat lokasi kerja
f) Cara berpikir rasional
Orang yang hidup kota akan jauh lebih realistis dan berpandangan rasional, terlebih pada ekonomi. Maka dari itu, tak bisa dipungkiri bahwa tingkat penghasilan dan gaya hidup yang mewah menjadi sesuatu yang dikejar bagi penduduk kota..
Orang yang hidup kota akan jauh lebih realistis dan berpandangan rasional, terlebih pada ekonomi. Maka dari itu, tak bisa dipungkiri bahwa tingkat penghasilan dan gaya hidup yang mewah menjadi sesuatu yang dikejar bagi penduduk kota..
c. Pola Keruangan Kota
Kita bisa mempelajari konsep keruangan kota melalui beberapa teori tentang struktur keruangannya. Setiap kota mempunyai keunikannya masing-masing, tergantung pada sektor utama yang menggerakkan aktivitas di kota tersebut. Ada kota yang terkenal kuat dalam bidang industri, ada yang unggul dalam bidang ekonomi kreatif, atau kuat dalam bidang pengolahan sumber dayanya. Semua itu kembali lagi dari faktor fisik, misalnya morfologi. Serta faktor sosial, seperti integritas dan etos kerja masyarakatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul teori-teori yang menjelaskan segala aspek keruangan dan struktur kota. Teori tersebut antara lain:
a) Teori Konsentris (Ernest Burgess)
Teori ini menjelaskan mengenai struktur kota yang berkembang secara teratur, mulai dari bagian inti kota, hingga ke bagian pinggirannya. Dalam teori ini, pola ruang dari suatu kota semakin meluas hingga menjauhi titik pusat kota. Zona yang terbentuk akibat pemekaran wilayah mirip sebuah gelang yang melingkar dengan pengelompokan daerah atas 5 zona, yaitu:
Zona 1
Sebagai pusat kota dan kegiatan inti, seperti bisnis dan pemerintahan atau central business district (CBD).
Zona 2
Sebagai penunjang pusat kota atau zona peralihan. Umumnya terdapat banyak aktivitas perdagangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kota tersebut.
Zona 3
Khusus sebagai permukiman kelas pekerja atau buruh. Daerah tersebut dipilih sebagai tempat tinggal agar biaya transportasi pekerja tidak mahal.
Zona 4
Hampir sama dengan zona 3 sebagai tempat tinggal pekerja, namun perbedaannya ialah zona ini digunakan bagi pekerja kelas menengah. Pekerja kelas menengah yang dimaksud yakni profesional yang telah memiliki jabatan yang menunjang, sehingga mereka memilih untuk tinggal sedikit lebih jauh dari pusat kota, untuk menghindari kepadatan di zona 3.
Zona 5
Yakni permukiman bagi orang-orang yang menginginkan tempat tinggal yang tenang dan jauh dari keramaian kota. Zona ini merupakan permukiman yang beralih ke zona pertanian.
Teori konsentris dapat diterapkan di wilayah-wilayah yang lingkungannya sangat mudah untuk dibangun jalur transportasi. Karena transportasi menjadi hal yang vital pada teori ini.
b) Teori Sektoral (Homer Hoyt)
Teori ini muncul sebagai bertentangan dari teori sebelumnya. Dimana struktur perkembangan kota tumbuh tidak teratur. Pertumbuhan kota tidak hanya dimulai dari bagian inti kota, namun dari wilayah sektoral-sektoral, yang kemudian menyebar ke sekitarnya.
Tidak berbeda jauh dengan teori sebelumnya, teori sektoral juga memiliki 5 jenis pengelompokan zona yang sama dengan teori konsentris. Perbedaan yang mendasar terletak pada tingkat perkembangan penduduk di kota sehingga membuatnya tumbuh tidak teratur.
c) Teori Inti Ganda (Ullman - Harris)
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, selanjutnya dua orang ilmuwan geografi, bernama Edward Ullman dan C.D. Harris yang berpendapat bahwa sebuah kota, jauh lebih kompleks dari penggambaran dua teori sebelumnya mengenai kota.
Gagasan utama dari teori ini adalah inti atau pusat dari suatu kota tidak hanya berada di pusat atau tengah kota tersebut, namun beberapa inti yang terpisah. Inti-inti tersebut berkembang berdasarkan penggunaan lahannya yang fungsional. Selain itu, segi kekuatan ekonomi juga menjadi dasar pertimbangan. Teori tersebut kemudian disebut sebagai Teori Inti Ganda.
Teori ini cukup berbeda dengan teori sebelumnya. Kompleksitas dari teori ini mengelompokkan sembilan zona dari struktur keruangannya, antara lain:
Zona 1
Sebagai pusat kota dan kegiatan inti, seperti bisnis dan pemerintahan atau central business district (CBD).
Zona 2
Merupakan daerah grosir dan manufaktur, yang banyak terdapat pada daerah ini.
Zona 3
Sebagai permukiman kelas bawah. Zona ini dipilih karena pekerja kelas bawah umumnya akan memilih tempat tinggal yang mendekati pusat kota untuk meminimalisir biaya transportasi.
Zona 4
Permukiman kelas menengah. Daerah ini juga dekat dengan pusat kota, namun tata letaknya tidak begitu menjamur seperti daerah permukiman di zona 3
Zona 5
Yakni permukiman bagi orang-orang yang menginginkan tempat tinggal yang tenang dan jauh dari keramaian kota.
Zona 6
Daerah manufaktur berat. Zona ini umumnya terletak jauh dari permukiman atau pusat kota, agar tidak mengganggu kenyamanan akibat hasil polusi industri
Zona 7
Khusus bagi daerah pusat bisnis di luar kota. Umumnya terbentuk karena ada orang-orang yang memiliki kepentingan bisnis, namun tidak ingin melakukannya di pusat kota.
Zona 8
Yakni permukiman di pinggiran kota (suburban)
Zona 9
Yakni daerah penunjang kota, namun terletak di pinggiran kota untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal di wilayah pinggiran kota (suburban)
d) Teori Poros (Babcock)
Teori ini menjelaskan bagaimana jalur transportasi berperan utama dalam memberikan pengaruh pada struktur ruang kota. Teori ini kemudian disebut sebagai teori poros. Teori ini dikemukakan oleh Babcock pada tahun 1960.
Mengapa jalur transportasi berperan utama, karena mobilitas fungsi dan penduduk mempunyai intensitas yang sama dalam konfigurasi relief kota yang seragam. Selain itu, daerah yang dilalui transportasi akan mengalami perkembangan fisik yang lebih baik.
e) Teori Historis (Alonso)
Teori keruangan kota yang didasari atas nilai sejarah yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk kota tersebut. Teori ini dicetuskan oleh Alonso pada tahun 1964.
Perubahan tempat tinggal yang dimaksud, yakni masyarakat tertarik untuk membangun permukiman di pinggiran wilayah CBD (central business district atau pusat kota) karena wilayah CBD mengalami perubahan teknologi yang cepat di bidang transportasi dan komunikasi. Hal ini kemudian menjanjikan kenaikan standar hidup bagi penduduknya
Desa Memanjang
Karena kelompok Kami mendapatkan tugas untuk membuat miniatur desa memanjang, jadi kami akan menjelaskan secara singkat apa itu desa memanjang, mengapa kami memilih membuat miniatur desa memanjang, asal usul desa memanjang dan desa manakah yang akan kami jadikan miniatur.
1. Pengertian Desa Memanjang
Desa memanjang adalah salah satu pola desa yang memiliki bentuk memanjang. pola ini dapat dikenali dengan pola pembangunannya yang memanjang pada suatu garis. Garis tersebut menjadi sumber penghidupan atau kemudahan mobilitas penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Pola ini memiliki ciri - ciri pemukiman yang berada di samping jalan, rel kereta, pantai, atau sungai.
2. Alasan Kami Memilih Desa Memanjang
Mengapa kelompok Kami memilih untuk membuat miniatur desa memanjang? Singkatnya adalah karena pemilihan peran yang sebelumnya dilakukan oleh guru pembimbing Kami.
3. Sejarah Desa Memanjang
Pada zaman dahulu, masyarakat memilih mendirikan tempat tinggal dengan pola memanjang agar memudahkan hidup mereka. Mereka mendirikan tempat tinggal di sepanjang sungai, atau pantai agar memudahkan mereka untuk mencari makan (contoh: ikan), mudah mendapatkan air, ataupun sebagai sarana lewatnya transportasi.
Di zaman sekarang, masyarakat masih menggunakan pola memanjang ini karena dinilai masih efektif, terutama bagi masyarakat pedesaan.
4. Inspirasi Kami
| Sumber: https://travel.kompas.com/ |
Desa yang kami pilih untuk dijadikan miniatur adalah desa Srikemenut yang terletak di Bantul, Yogyakarta.
Pembuatan Miniatur
1. Alat dan bahan
Alat
1. Gunting = -
1. Gunting = -
2. Cuter = -
3. Penggaris = -
4. Lem tembak = -
5. Kipas = -
6. Kuas = -
7. Handphone = -
5. Kipas = -
6. Kuas = -
7. Handphone = -
8. Korek Gas = -
Bahan :
2. Kardus = -
3. Koran = -
4. Lem Rajawali = -
5. Karton = Rp 8.000
6. Bahan Lem tembak = Rp 2.000
7. Korek kayu = Rp 2.000
8. Batu koral = Rp 10.000
9. Isolasi = Rp 5.000
10. Isolasi Dobletape = Rp 5.000
11. Miniatur orang = Rp 8.000
12. Miniatur pohon = Rp 8.000
13. Serbuk rumput halus sintetis = Rp 10.000
14. Cat air = Rp 29.000
Total = Rp 100.000
3. Koran = -
4. Lem Rajawali = -
5. Karton = Rp 8.000
6. Bahan Lem tembak = Rp 2.000
7. Korek kayu = Rp 2.000
8. Batu koral = Rp 10.000
9. Isolasi = Rp 5.000
10. Isolasi Dobletape = Rp 5.000
11. Miniatur orang = Rp 8.000
12. Miniatur pohon = Rp 8.000
13. Serbuk rumput halus sintetis = Rp 10.000
14. Cat air = Rp 29.000
Total = Rp 100.000
2. Langkah langkah Pembuatan Miniatur
1. pembuatan aliran sungai dengan mengeruk gabus menggunakan cutter5 Pembuatan Pohon

Video Trailer & Pengenalan Singkat
Dibawah ini adalah video singkat tentang proyek Kami ini. Silahkan ditonton dan hope you enjoy...
Kreatif
BalasHapus